Koin Tahun 883 Itu Kutemukan Disebuah Pantai

Sepertinya aku semakin khusyu menguras dan memaksa fungsi otak untuk berpikir tentang penemuan itu. Namun sungguh terasa sulit bagiku untuk menterjemah tentang penemuan dua koin tersebut. Apalagi dengan keterbatasan kemampuanku dalam hal ilmu sejarah, sehingga sangat tidak mungkin pula ada jawaban yang pasti tentang hal itu. 
Ilustrasi | Foto : Merdeka.com
Sore itu seakan aku tak percaya, aku berada disebuah pantai yang begitu indah dan membahana. Hamparan pasirnya yang luas berwarna putih, halus dan juga bersih. Diufuk barat matahari sudah mulai turun perlahan-lahan menuju peristirahatan yang kemudian disambut sunset diwaktu senja. Keberadaan ku kala itu bagaikan ditengah pandang tandus, dimana hanya ada suara angin yang menyapa dan hanya pasir putih yang membentang luas tanpa ku tahu berapa luasnya. 

Kucoba melengketkan pantatku di atas pasir putih tersebut, yang hanya beralaskan sandal jepit tua sambil memandang gulungan ombak yang tengah menari dibibir pantai. Saat itu, kebetulan pantai sedang sepi, bila ku hitung jumlah pengunjung pantai tersebut hanya ada aku dan sepasang manusia tua yang sedang bernostalgia, layaknya pada usia muda. 

Ya,, mereka tidak terlalu jauh dari ku, mereka adalah kakek dan nenek yang sudah berusia senja. Bila ku amati dengan cermat, sepertinya mereka bukan orang timur tapi hanya orang barat yang tidak bisa ku pastikan apa bangsanya dan dari mana asalnya. Ah tidak perlulah untukku berlama dan terlalu mendalam memikirkannya.

Sambil menikamti pemandangan laut, tak sengaja tanganku kananku perlahan-lahan menggali pasir dan menimbun ujung kaki. Semua ku lakukan tanpa dorongan atau perintah dari otakku. serta tanpa ku ketahui apa tujuan menimbun kakiku saat itu. Memang kala itu, aku sedang memikirkan sesuatu, biasalah! seperti sebagian orang yang duduk di pantai sambil main-main pasir. 

Tanganku terus menggalinya, perlahan-lahan hingga kedalaman sudah mencapai pangkal tanganku. Sejenak aku berhenti, sepertinya aku menyentuh sesuatu pada saat sedang menggali pasir. Setelah ku periksa, ternyata benar, aku menemukan sepotong kertas gosok atau kertas pasir yang sering digunakan tukang perabot untuk memperhalus permukaan kayu perabotan rumah tangga. Kemudian akibat rasa penasaran, penggalian pasirpun ku teruskan, hingga aku menemukan lagi kertas plastik putih yang bertuliskan "Quality of The Best", Lagi-lagi aku tambah penasaran, ada apa ini? tanyaku didalam hati, yang semakin serius untuk menggali pasir. 

Penggalian terus berlanjut, dua manusia bulek tua yang sedang mengulangi masa mudanya, kini tak ku tahu dimana ia berada. Gunungan pasir dari hasil galianku sudah lumayan terlihat menumpuk, galianpun tidak mebuahkan hasil apa-apa hingga akhirnya akupun berhenti dan memperhatikan hasil galian yang sebelumnya. Meskipun yang ku perhatikan tersebut hanya dua potong kertas gosok dalam keadaan lembab terkena air laut yang asin, tapi itu lah hasil dari penggalian tadi. 

Sesaat kemudian, matahari semakin condong ke arah barat, akupun mencoba melanjutkan lagi penggalian ditempat yang sama, akan tetapi kali ini aku menemukan hal yang berbeda dari sebelumnya. Bila sebelumnya itu dua potong kertas gosok, namun kali ini aku menemukan dua koin yang berwarna perak, yang tertimbun oleh pasir dengan kedalam sekitar 15 cm. 

Dua koin itu pun ku bersihkan dari bitir-butir pasir yang lengket di permukaannya. Setelah terlihat bersih dipermukaan kedua koin tersebut, tepatnya dibagian tengah bertuliskan "1 RED" sedangkan di pinggilnya hanya dikelilingi garis tegak lurus, seperti yang pada uang koin Rp. 50. Kemudian dibalik koin tersebut, aku melihat seperti lambang kepala seorang perempuan yang disertai sanggul rambut yang sama persis seperti Ratu Elizabeth Inggris. sedangkan dibawahnya lambang tersebut terdapat tulisan angka "883". Menurutku, angka tersebut adalah tahun dari koin itu dikeluarkan. Akibat penemuan itu, aku tercengut, yang selanjutnya terus berpikir tentang sisi balik dua koin perak abad ke IX itu.

Sepertinya aku semakin khusyu menguras dan memaksa fungsi otak untuk berpikir tentang penemuan itu. Namun sungguh terasa sulit bagiku untuk menterjemah tentang penemuan dua koin tersebut. Apalagi dengan keterbatasan kemampuanku dalam hal ilmu sejarah, sehingga sangat tidak mungkin pula ada jawaban yang pasti tentang hal itu. 

Sesaat berlalu, diujung menara tinggi menjulang terdengar riuh lantunan ayat-ayat suci yang sedang dibacakan. Aku yang sedang pulas dipembaringan, dengan sontak terjaga. Didalam gelapnya cahaya, aku meraba handphone yang sebelumnya kuletakkan tidak jauh dari bantal ditempat tidurku. Setelah handphone kudapat, ku lihat jam menujuk pukul 04.51 WIB. Dalam keadaan mata sedikit perih, aku mencoba duduk sambil mengingat kembali mimpi yang baru saja ku alami. Dimana aku berada di sebuah pantai yang luas dan akhirnya menemukan dua koin tahun 883. 

Usai mengingat kembali mimpi itu, akhinya aku berkesimpulan bahwa mimpi itu hanya bunga tidur, yang datang untuk memperindah dan menyenyakkan tidur semata. Sehingga usai kejadian itupun aku bersiap-siap untuk sholat shubuh berjamaah disebuah mushola yang tidak jauh dari tempat tinggalku. 

Previous
Next Post »

2 Comments

Di bawah ini!